Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Jemanden etwas durch die Blume sagen

                                   Jemanden etwas durch die Blume sagen Dulu aku kirimkan Mawar merah untukmu Benar, kau membalasku dengan Tulip putih Seiring berjalannya waktu  aku merasa kisah kita layaknya Primrose Satu hari paling indah saat hari ulang tahunku, kau bilang bunga Aster cocok untukku Hingga hari itu datang… rupanya Anyelir kuning dapat melambangkan apa yang terjadi Pada akhirnya tanpa sadar kau telah membuat Aster milikku gugur Tepat dua tahun lalu aku mengirimkan bunga Sweet pea untukmu yang terakhir Ternyata aku salah, selama ini kisah kita hanyalah rangkaian  dari Geranium dan Marigold Kini aku akan menjadi layaknya Dandelion Tepat pada hari ini aku berhenti,  dengan Daisy yang akan menemani hingga hari-hari selanjutnya

Musim yang Enggan

                                    Musim yang Enggan Kita pernah menanam janji di ladang waktu namun musim enggan memberi kita panen Tidak perlu menoleh, cukup kau temui  satu kupu - kupu yang menghinggapimu Lalu kau tersenyum maka itulah aku.. Tak semua cinta harus hadir di tangan Terkadang bentuknya terlalu abstrak Beberapa memilih tinggal sebagai bisik yang tak pernah usai di telinga waktu Meski langkahku tak lagi bercumbu dengan kota ini Kutitipkan rasa rinduku pada angin yang bebas tak mengenal batas Akankah ia menjelma daun yang jatuh Debu di bukumu Mungkinkah desir malam  yang diam - diam menyapa pipimu Beberapa musim tak selalu berpihak Jika badainya terlalu kencang semoga semesta selalu memelukmu lebih dulu Bila langitmu tak lagi biru dan lagu kesukaanmu terdengar asing maka ingatlah dalam samar Satu - satunya yang tersisa dari perjalanan sang waktu Pada suatu mus...

Perihal Temu

                                                           Perihal Temu Dunia ini terlalu abstrak begitupun soal rasa Bila kata - kata membuatmu bisu bolehkah temu tak sekedar semu? Sebab sungguh yang sekarang ini utuh  Ditikam bahagia bahagia menikam rindu Aku masih gandrung dengan sandyakala itu Pada ratapan panjang di tengah bincang Mengapa waktu memintas? padahal daksa dan atma kita terbatas

Di akhir November

                                               Di akhir November Rinai berderai turun Planetku sedang hujan hari ini ‘planet kita’ begitu ucapmu dahulu Ah tidak lagi, setelah kau beranjak dari sini Berkemas sendiri lalu bergegas pergi Bagaimana dengan kotamu? Lihat sang purnama Enggan menampakkan diri di tengah kelamnya langit malam Planetku kini hanya sebuah kota tak berpenghuni Riuh tarian daun berguguran Genangan kenangan sepanjang jalan itu Jejak langkah dua pasang sepatu masih membekas Mengingatkanku pada melodi romansa malam itu Melodi dalam bisikan, merayu sisa kenangan samar - samar diterpa waktu Planetku kini kota mati tidak pernah kau singgahi lagi… November sebagai saksi akan ku dekap erat sang lara kemudian hilang dibawa dersik Mengurai kesedihan yang tersembunyi di kota ini Kota ini, planetku, dan planet kita (dahulu)

Satu Desember

                                                             Satu Desember Ada satu kota yang menyimpan jejak langkah kita Ada musim yang belum selesai di dadaku musim yang datang tanpa kalender tanpa izin, namun menetap dengan lembut Seperti caramu menggenggam jemariku, kala itu seolah takut aku hilang Bandung masih mengingatmu, Aku juga.. Kita pernah berjalan berdampingan tanpa nama Memang tidak semua rasa butuh kata Mungkin beberapa kisah cukup diingat disimpan seperti senja yang tak pernah tuntas Kau pernah takut, aku pernah kuat lalu dunia berbalik arah kau belajar berani, aku belajar merelakan Hari ini aku baik - baik saja, meski ada nama yang tak pernah selesai aku bisikkan meski jarak telah lama mengubah segalanya Semesta selalu menjagamu, kan? Kau tau, di tempat paling tenang dalam diriku Aku merawatm...

Pengembara Lara

                                                                                                           Pengembara Lara Pengembara itu Dua tahun lamanya ia berkelana Menyusuri kala datangnya senja Menyelami kala perginya sang malam Lari ia terus berlari Bersemedi tiada henti Sekedar mencari ketenangan Sekedar meluruhkan lara Pengembara itu Dibawanya sisa - sisa luka  Kenangan dengan sih pemilik hati Kian rindu menyelimuti dinginnya malam Kala senja hanya tentang temu Pulangkah ia pada sang temu? Di bawah bumi pasundan  diluruhkannya sisa - sisa lara berharap sang harsa mengham...

Renjana di Tanah Pasundan

                                                    Renjana di Tanah Pasundan                               Bagiku Bandung adalah kenangan Kota yang di setiap sudutnya terdapat cerita Setiap insan di bumi pasti mengetahui Entah itu tentang… manusia dengan alam manusia dan cinta Dengan sudut pandang mana melalui suara hati siapa? Akankah terasa nyata, bagi tuan dan puan? Peluk embun pagi dengan mesra dalam sisa malam kian dingin Lirih daku bisikkan asa perihal rasa Namun, ada kalanya perasaan hanyalah perasaan Tumbuh untuk sekedar tumbuh Putih untuk sekedar senang Hitam, untuk sekedar duka Merasa hanya sekedar rasa begitu dinamis, hingga mati begitu saja

Rindu itu ilusi

                                             Rindu itu ilusi Dahulu rasanya hangat menjadi dingin Raga yang pernah saling bertemu Dua insan yang saling mengenal Dua insan yang pernah sedekat nadi Namun kini sejauh matahari Bibir yang saling terbungkam Mulut yang tak mampu berkata  maupun menyapa Aku tau kamu ada Kamu tau aku ada Namun tak terlihat Bagaikan terhalang tembok besar tak kasat mata memisahkan antara kita Hari silih berganti Waktu demi waktu telah kita lewati Detik demi detik telah berlalu Mengapa malam cepat berganti pagi? Aku, kamu, kita kini kembali menjadi asing Kamu delusi dan aku nyata Aku dinamis dan kamu statis Kini yang tersisa hanyalah kenangan Kenangan bagaikan air yang terus mengalir Namun terhalang batu besar nan terjal Sudahlah, tidak perlu seorangpun...

Hati - hati di Jalan

                                                            Hati - hati di Jalan Sudut kota, ketika senja mulai menampakkan diri Meresapi belaian angin yang menjadi dingin Rintikan tirta sang alam menyelimuti Jakarta kita Sirine dari kereta yang melintas Bisingnya kendaraan yang berlalu - lalang Seolah memecah keheningan antara kita Senja dan kau Bukankah perpaduan yang pas? Seperti racikan kopi dari resep rahasia sang barista Kau itu angin nyata, hanya bisa dirasa tapi tak tergenggam Kau itu batu bermakna, layaknya arca nan indah namun bisu Kita begitu berbeda dalam dalam semua kecuali dalam cinta Kotaku menjadi muram  Ketika bentala mengecup tirta begitu mesra,                    ...