Rindu itu ilusi



                                    Rindu itu ilusi

Dahulu rasanya hangat menjadi dingin
Raga yang pernah saling bertemu
Dua insan yang saling mengenal
Dua insan yang pernah sedekat nadi
Namun kini sejauh matahari

Bibir yang saling terbungkam
Mulut yang tak mampu berkata 
maupun menyapa

Aku tau kamu ada
Kamu tau aku ada
Namun tak terlihat
Bagaikan terhalang
tembok besar tak kasat mata
memisahkan antara kita

Hari silih berganti
Waktu demi waktu telah kita lewati
Detik demi detik telah berlalu
Mengapa malam cepat berganti pagi?
Aku, kamu, kita kini kembali menjadi asing

Kamu delusi dan aku nyata
Aku dinamis dan kamu statis

Kini yang tersisa hanyalah kenangan
Kenangan bagaikan air yang terus mengalir
Namun terhalang batu besar nan terjal

Sudahlah, tidak perlu seorangpun tau ada jiwa kekar
berbalut hati nan tegar
Selalu setia menanti
walau pedih rasa di hati

Tenanglah,
mentari itu akan tetap bersinar
Bahkan setelah hujan badai dan kabut menyelimuti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Temu

Pengembara Lara

Musim yang Enggan