Hati - hati di Jalan
Hati - hati di Jalan
Sudut kota, ketika senja mulai menampakkan diri
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Rintikan tirta sang alam menyelimuti Jakarta kita
Sirine dari kereta yang melintas
Bisingnya kendaraan yang berlalu - lalang
Seolah memecah keheningan antara kita
Senja dan kau
Bukankah perpaduan yang pas?
Seperti racikan kopi dari resep rahasia sang barista
Kau itu angin
nyata, hanya bisa dirasa
tapi tak tergenggam
Kau itu batu
bermakna, layaknya arca nan indah
namun bisu
Kita begitu berbeda dalam dalam semua
kecuali dalam cinta
Kotaku menjadi muram
Ketika bentala mengecup tirta begitu mesra,
aroma petrickor mengudara
Sudut kota itu seolah menjadi saksi
Tentang kata temu dan pamit seakan tak memiliki jeda
Sayang, bisakah kita kembali?
Sejenak bertemu menitipkan ‘pamit’ pada awan yang mendung
Disaksikan cakrawala dan elegi jingganya
ada selaksa rindu
Kasihku, kita berhenti
Melanjutkan perjalanan meski tanpa kita
Membawa segala bentuk perasaan
dan kenangan yang tersisa
Hati - hati di jalan, dariku
Komentar
Posting Komentar